Selasa, 18 November 2025

Kenapa Tulisan Terasa Lebih Telanjang dari Foto?

Oleh: Nayla Iffah

Ada hal yang baru kusadari belakangan ini: betapa berbeda rasanya ketika seseorang bilang “aku lihat sosmed-mu” dibanding “aku baca tulisanmu.” Yang pertama terasa biasa saja, seperti mereka hanya melihat kulit luar. Foto-foto jalan-jalan, pemandangan, atau potret tubuh dari jauh itu tidak mengungkap siapa diriku. Itu hanya fragmen visual tentang hal-hal yang kulakukan, bukan siapa aku di dalam. Tapi tulisan… itu lain. 

Ada dua bentuk telanjang: telanjang tubuh dan telanjang pikiran. Dan anehnya, telanjang pikiran bisa terasa jauh lebih menakutkan. Ketika seseorang bilang mereka membaca tulisanku, rasanya seperti mereka masuk ke ruang terdalam yang biasanya hanya kukunjungi sendirian. Tulisan-tulisan itu bukan sekadar kata. Itu cara berpikirku, kerentananku, sudut kecil dari batin yang tidak pernah terlihat di foto mana pun. Mungkin itu sebabnya beberapa waktu terakhir aku mengarsipkan banyak tulisan lamaku. Aku malu membacanya. Ada versi diriku yang dulu menulis dengan polos, mentah, tanpa penyaring. Versi yang hanya ingin meluapkan segalanya dan tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari orang-orang nyata dalam hidupku bisa membacanya. 

Aku bergabung dengan blog sejak 2015—era di mana aku masih menulis curhat-curhat yang sekarang membuatku menutup muka kalau tanpa sengaja kubaca ulang. Selain karena tulisannya yang menurutku buruk, karena aku sudah bukan orang yang sama dengan penulis tulisan-tulisan itu. Dan mengarsipkannya bukan berarti aku menyangkal diriku sendiri. Justru sebaliknya: itu bentuk perlindungan terhadap diriku yang sekarang. Aku belajar menetapkan batas. Aku memilih mana yang ingin kutunjukkan, dan mana yang cukup kusimpan sebagai catatan pribadi. Ada sesuatu yang matang di sana. Bahwa aku boleh tumbuh, berubah, dan memutuskan untuk menjaga privasi emosionalku sendiri. 

Sekarang aku hanya meninggalkan tulisan-tulisan yang temanya lebih umum, yang tidak akan membuatku menunduk malu kalau tiba-tiba seseorang di dunia nyata bertanya tentangnya. Sisanya kusimpan baik-baik, hanya untukku.

Rabu, 30 April 2025

Vasektomi, Solusi Pengendalian “Beban Negara”?

Oleh: Nayla Iffah
Baru-baru ini, sebuah kebijakan kontroversial kembali mencuat di ruang publik: penerapan vasektomi sebagai syarat bagi warga miskin untuk menerima bantuan sosial. Langkah ini sontak menuai dukungan dari sebagian warganet yang merasa bahwa orang miskin sebaiknya tidak memiliki terlalu banyak anak. Mereka berargumen bahwa keluarga miskin kerap kali tak mampu memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya, sehingga langkah pengendalian kelahiran, bahkan melalui steril permanen seperti vasektomi dipandang sebagai solusi logis untuk memutus rantai kemiskinan.

Namun, mari kita berhenti sejenak dan bertanya, benarkah masalahnya sesederhana itu? Apakah kemiskinan memang disebabkan oleh terlalu banyaknya anak, atau justru oleh sistem yang gagal menjamin hak-hak dasar warga negaranya?

Kemiskinan bukanlah hasil dari pilihan individu semata. Ia adalah buah dari struktur sosial dan ekonomi yang timpang. Banyak dari mereka yang hidup dalam kemiskinan bekerja keras setiap hari, namun tetap saja penghasilannya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Upah minimum yang tidak layak, minimnya lapangan kerja, pendidikan yang tidak merata, dan akses kesehatan yang mahal menjadi realita sehari-hari bagi banyak keluarga di negeri ini. Di tengah tekanan hidup semacam itu, sulit mengharapkan seseorang untuk berpikir panjang tentang perencanaan keluarga, apalagi bila mereka tak mendapat akses terhadap edukasi seksual dan kontrasepsi yang aman.

Mendorong vasektomi sebagai bentuk pengendalian kelahiran bisa saja menjadi salah satu pilihan jika diberikan secara sukarela, dengan edukasi dan pertimbangan matang. Namun, ketika kebijakan ini dijadikan syarat untuk menerima bantuan sosial, maka itu tidak lagi bersifat sukarela. Itu menjadi bentuk pemaksaan terselubung, bahkan bisa disebut sebagai kekerasan struktural. Orang miskin dipaksa memilih antara mempertahankan haknya atas tubuh dan keturunan, atau mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup.

Alih-alih mengatur tubuh rakyatnya, pemerintah seharusnya mengurus apa yang lebih mendesak dan fundamental: membuka lapangan kerja yang layak, memperbaiki sistem pendidikan dan layanan kesehatan, serta menjamin keamanan sosial. Menyederhanakan kemiskinan sebagai akibat dari jumlah anak hanyalah pengalihan isu. Ia mencerminkan ketidakmauan negara untuk melihat dan menyelesaikan akar masalah yang sesungguhnya.

Hak untuk memiliki keturunan adalah hak asasi. Dan hak atas hidup layak, termasuk akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan juga merupakan tanggung jawab negara yang tak bisa ditawar. Membatasi keturunan tanpa memperbaiki kualitas hidup hanya akan memperpanjang ketimpangan dan menormalisasi ketidakadilan.

Karena masalahnya bukan jumlah anak, melainkan sistem yang terus menerus gagal melindungi warganya.

Selasa, 26 November 2024

Morning Pages: Tiga Lembar Setiap Pagi Tanpa Sensor

Saya pertama kali mengetahui tentang istilah "Morning Pages" dari Youtuber edukasi, Zahid Ibrahim. Saya tertarik dengan apa yang dia sampaikan dan mempraktekannya setelah mengulik lebih dalam apa itu Morning Pages. Morning Pages sebenarnya sederhana. Kita hanya perlu menuliskan apapun yang yang bisa kita tulis seperti hal-hal yang mengganggu pikiran, gagasan, refleksi, rasa syukur, harapan atau mimpi semalam dengan tulisan tangan. Kita bahkan bisa menulis "Aku tidak tau akan menulis apa" sebanyak tiga halaman jika benar-benar tidak ada apapun yang muncul dikepala kita. 

Morning Pages sendiri merupakan teknik menulis bebas yang dikenalkan oleh Julia Cameron dalam bukunya " The Artist's Way: A Spriritual Path to Higher Creativity". Metode ini mengajak kita untuk menulis tiga halaman setiap pagi tanpa memikirkan struktur dan tata bahasa. Tujuannya sederhana, membersihkan kebisingan dalam pikiran dan membebaskan kreativitas. Selama sebulan terakhir saya rutin melakukan Morning Pages setiap pagi setelah berolahraga. Hasilnya, perasaan saya jauh lebih ringan. Bahkan jika awalnya hanya menulis "aku tidak tau akan menulis apa" ketika mengulanginya terus-menerus pikiran saya secara alami akan pindah ke ide atau perasaan lain yang lebih spesifik. Proses inilah yang yang membuka "sumbatan" dikepala dan membuat pikrian menjadi lebih ringan. 
"Morning pages are not meant to be art, or even writing. They are meant to be, simply, the act of moving the hand across the page and writing down whatever comes to mind. Nothing is too petty, too silly, too stupid, or too weird to be included".

Morning Pages bukan tentang menghasilkan tulisan yang indah atau bermakna. Melainkan untuk melepaskan apapun yang ada di pikiran tanpa sensor. Membiarkan tulisan mengalir bebas atau stream of consciousness, jadi tidak apa-apa untuk memulai dengan kebingungan atau pengulangan, yang penting adalah konsistensi menulis tiga halaman setiap pagi dengan tulisan tangan.

Morning pages, selain membuat pikiran menjadi lebih ringan, kegiatan ini juga membantu untuk lebih memahami pola pikir dan emosi dengan lebih baik. Hal itu meningkatkan kemampuan untuk lebih fokus dan menghasilkan ide-ide baru dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, membuka ruang bagi kreativitas yang mungkin sebelumnya terhambat karena kebingungan, kecemasan, atau tekanan mental. Morning pages juga memberi ruang untuk refleksi tanpa khawatir dengan penilaian orang lain. Bebas menjadi diri sendiri dan jujur apa adanya. 

Rabu, 20 November 2024

Belajar Mencintai Hidup

Oleh: Nayla Iffah

19/11/24 Rutinitas pagi seperti biasa. Aku bersimbah keringat, dan waktu menunjukan pukul 06.40 ketika aku menuliskan ini. Aku bangun pukul 04.50, langsung menyelesaikan beberapa tugas kecil, lalu olahraga (hari ini pakai panduan Mizi) selama 30 menit. Siang nanti aku akan pergi ke dokter THT. Bunyi di telingaku sudah terlalu mengganggu. Bayangkan rasanya kupingmu dibisiki ssrr ssrr nonstop 24 jam—desir layang-layang yang tak kunjung pergi dari telinga kananku. Tapi, meskipun ada yang membuat tubuh ini tidak nyaman, aku menyukai hidupku akhir-akhir ini. Aku lebih sering bersyukur. Bukan pada hal besar, tapi hal-hal kecil yang dulu sering luput dari perhatian. Aku bersyukur aku suka brokoli. Aku suka jus sayur. Aku suka semua buah—termasuk pepaya, buah yang sering dihindari orang-orang di sekitarku karena tumbuh di mana-mana: di belakang rumah, di pekarangan tak terurus, atau tanah kosong yang jarang dipijak. Tapi tidak sulit mendapat pepaya gratisan di sini, dan aku bersyukur untuk itu. Aku bersyukur D.O. masih exist dan kontennya mudah diakses. Aku bersyukur bisa masak. Bersyukur karena membersihkan rumah, menyikat toilet, menyapu lantai bukan hal berat bagiku. Aku bersyukur untuk buku-buku yang ku baca; mereka memberiku ruang untuk merasakan sedih, tawa, kesal, haru, cinta, dan kecewa. Aku bersyukur bisa tenggelam dalam huruf-huruf mereka.

Kadang aku berpikir, kalau suatu hari seseorang bertanya, “Kamu kok belum nikah? Maunya yang kayak gimana sih?” Aku mungkin akan menjawab: “Seseorang yang mencintai hidupnya.”

Bukan karena terdengar filosofis, tapi karena aku tahu, orang yang mencintai hidupnya bisa menemukan kebahagiaan dari hal yang paling sederhana. Mereka tidak menggantungkan kebahagiaan pada musim tertentu. Cerah, mendung, atau hujan sekalipun—semua tetap bisa dinikmati. Mereka senang mencium aroma kopi, tertawa bersama teman, menatap langit, atau bahkan hanya menikmati makanan favorit.

Mereka terbuka untuk mencoba. Tidak takut keluar dari kebiasaan, berani menyusuri tempat-tempat asing, mencoba hal baru, belajar hal-hal yang mungkin tidak pernah ada di daftar sebelumnya. Mereka mungkin penggemar berat thriller detektif, tapi akan tetap mau mencoba membaca romance fantasy jika aku memintanya.

Mereka juga tidak sibuk meratapi masa lalu, atau hidup dalam ketakutan terhadap masa depan. Mereka hadir—penuh—di momen sekarang. Optimis. Bukan berarti tak pernah punya masalah, tapi mereka mampu melihat tantangan sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh.

Mereka punya impian, besar maupun kecil. Dan itu yang membuat mereka terus bergerak. Mereka peduli. Mereka suka berbagi kebahagiaan, meskipun hanya lewat hal-hal sederhana—sebuah pesan, secangkir teh, pelukan hangat, atau sekadar mendengarkan.

Mereka menjaga diri mereka sendiri. Makan makanan yang baik, olahraga, tidur cukup. Mereka ingin terus hadir dalam hidupnya dan hidup orang-orang yang mereka sayangi.

Mereka tidak hidup dengan dendam, tidak juga dengan penyesalan. Mereka menerima, berdamai, dan berjalan maju dengan hati yang ringan. Mencintai hidup berarti juga mencintai dan menerima diri sendiri. Tidak membandingkan terus-menerus dengan orang lain. Tidak sibuk mengejar validasi. Tapi bisa menatap cermin dan berkata: “Aku cukup.”

Tentu saja mereka juga punya hari-hari buruk. Mereka juga bisa marah, kecewa, atau menangis. Tapi mereka tahu cara bangkit. Mereka tahu hidup ini layak untuk dirayakan, meski hanya dengan secangkir kopi dan udara pagi yang segar.

Laki-laki fiksi-kah yang aku impikan? Aku pikir, tidak ada yang lebih membahagiakan dibanding berdampingan seumur hidup dengan orang yang mencintai hidupnya. Aku menyisihkan semua kriteria laki-laki impianku saat remaja karena laki-laki yang mencintai hidupnya lebih keren dibanding apapun. 

Aku menyukai hidupku akhir-akhir ini. Aku sendiri terkejut betapa besar dampak dari perubahan kecil: mencatat habit trackerfinancial tracker, menulis morning pages, bangun pagi dan tidak tidur lagi, serta olahraga teratur. Semua itu berdampak nyata bagi fisik dan mentalku. Aku bersyukur untuk psikiaterku yang selalu menyertakan catatan di tiap sesi: “Olahraga fisik secara teratur agar dapat meningkatkan mood dan energi menjalani kegiatan sehari-hari. Tulislah perasaan dan pengalaman di buku catatan agar dapat membantu meredakan kecemasan dan memproses emosi dengan baik.”

Waktu masih menunjukan pukul 07.55 Aku akan membuat kopi dan mulai bekerja.

Aku ingin menutup pagi ini dengan kutipan dari Kahlil Gibran, dari buku The Prophet:

When you work, you fulfil a part of earth’s furthest dream,

assigned to you when that dream was born,

and in keeping yourself with labour you are in truth loving life,

and to love life through labour is to be intimate with life’s inmost secret.

Pekerjaan bukan sekadar kewajiban, tapi ekspresi cinta terhadap kehidupan. Dengan bekerja secara sadar dan penuh cinta, kita tidak hanya menjalani hidup, tapi juga menjadi bagian dari harmoni besar alam semesta. Lewat kerja, kita menemukan tujuan, menikmati dunia, dan menciptakan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Selamat Mencintai Hidup! 

Minggu, 16 Juni 2024

Lima Rekomendasi Buku Tentang Depresi dan Kesehatan Mental

Buku tentang depresi dan kesehatan mental
Saat ini topik tentang depresi dan kesehatan mental semakin banyak mendapatkan perhatian, seiring dengan banyaknya orang yang sadar dan peduli bahwa kesehatan mental tidak hanya penting untuk kualitas hidup, tapi juga berperan krusial dalam hubungan interpersonal, produktivitas dan kemampuan dalam menghadapi permasalahan hidup sehari-hari. Sebenarnya depresi dan masalah kesehatan mental lainnya adalah hal yang sering dialami banyak orang. Untuk itulah buku-buku ini hadir sebagai upaya untuk membantu kita memahami dan menghadapi masalah depresi dan kesehatan mental, serta untuk memastikan bahwa orang yang mengalami hal tersebut tidak lagi merasa sendiri. Namun, perlu diingat jika kalian tertarik membaca salah satu dari buku ini jangan mencoba mendiagnosis diri sendiri. Buku-buku ini hanya berfungsi sebagai pendamping, tetapi diagnosis dan perawatan tetap harus diserahkan pada profesional. Semoga buku-buku ini bisa menjadi panduan dalam perjalanan kalian mengenal depresi dan kesehatan mental yang lebih baik. Selamat membaca!

1. Loving The Wounded Soul

 

© Nayla Writing Room
Maira Gall