Sabtu, 22 November 2025

Tentang Bahasa, Kebiasaan, dan Jejak Profesi dalam Hidup Sehari-hari

Oleh: Nayla Iffah
Belakangan ini aku menyadari satu hal kecil yang lucu: rutinitas menulis dan membaca yang sering kulakukan tanpa sadar ikut mebentuk dalam cara komunikasiku sehari-hari. Hal-hal sederhana yang seharusnya bisa disampaikan dalam satu kalimat pendek, seringkali berubah menjadi paragraf rapi berisi salam pembuka, latar belakang, hingga rencana tindak lanjut.

Pernah suatu kali aku hanya ingin bertanya apakah tumblerku tertinggal di sebuah resto. Seharusnya aku cukup mengetik, “Kak, ada tumbler putih ketinggalan nggak ya?” Tapi yang terkirim malah pesan lengkap dengan jam kejadian, deskripsi barang, dan kalimat penutup “Terima kasih sebelumnya.” Aku membaca ulang dan setelahnya merasa sedikit aneh. Aku tidak sedang menulis pengajuan keberatan ke maskapai, aku hanya menanyakan tumbler. 

Anehnya, refleks seperti itu kadang juga muncul saat berbicara. Kadang aku berbicara santai lalu tanpa sadar menjawab “baik” alih-alih “oke”, "tenggak" alih-alih "langsung diminum?" atau “saya” padahal konteksnya santai. Ada momen ketika aku sedang berbicara dengan teman dekat, lalu tanpa sadar berkata “kami” dan baru setelah itu aku sadar, betapa formalnya pilihan kata itu untuk percakapan ringan.

Ternyata, aku tidak sendiri. Temanku yang bekerja sebagai desainer grafis punya ceritanya sendiri. Ia bilang, setiap kali melewati banner atau spanduk, otaknya otomatis memeriksa kombinasi warna, jenis font, dan susunan layout. Di lampu merah, ia bisa menatap poster iklan sambil berpikir, “Harusnya kotaknya digeser sedikit… warna ini terlalu berat… judulnya kurang tebal…” Seolah-olah matanya tidak bisa dibiarkan beristirahat.

Temanku yang bekerja sebagai tim komunikasi di bidang IT juga sering bercerita tentang para developer yang ia koordinasikan. Mereka jago teknikal, luar biasa jago, tapi sering kali komunikasi mereka minimalis. Jawaban mereka singkat, tepat, tetapi jarang memberikan konteks. Seperti mesin yang bekerja sempurna, tapi tidak terbiasa menjelaskan prosesnya. Katanya, “Developer itu kalau diminta menjelaskan pakai kalimat panjang, biasanya malah pelan dan bingung. Tapi kalau diminta jelaskan kode, langsung lancar.”

Dari situ aku tau, profesi ternyata tidak hanya sekedar pekerjaan. Ia membentuk cara kita memandang dunia, merespons hal kecil, dan memilih kata-kata. Setiap orang membawa “kacamata profesional” masing-masing, bahkan ketika mereka sedang tidak bekerja.

Penulis, editor, jurnalis atau copywriter akan peka pada ejaan dan struktur kalimat. Desainer peka pada komposisi visual. Programmer peka pada error dan logika. Barista peka pada aroma kopi. Guru peka pada cara seseorang memahami sesuatu.

Perhatian yang diasah setiap hari lama-lama menjadi kebiasaan. Kebiasaan itu menempel pada cara berpikir, dan akhirnya ikut terbawa ke cara kita berkomunikasi. Terkadang terasa lucu, kadang merepotkan, tapi sebagian besar waktu… itu hanyalah cara kerja otak yang sudah terbentuk oleh hal-hal yang kita lakukan berulang-ulang.

Mungkin memang tidak realistis membagi diri menjadi “aku yang di rumah” dan “aku yang di pekerjaan”. Manusia tidak punya sekat seperti itu. Semua pengalaman, rutinitas, kebiasaan, dan cara berpikir bercampur di satu tempat yang sama—kepala kita sendiri.

Dan pada akhirnya aku belajar menerima bahwa gaya komunikasiku yang kadang cenderung formal atau chat runtun seperti paragraf itu bukan sesuatu yang harus dihilangkan. Ia hanya jejak kecil dari hal yang selama ini menemaniku: kata-kata, kalimat, dan kebiasaan menata pikiran di atas kertas. Sama seperti temanku si desainer yang tidak bisa diam melihat banner berantakan, atau temanku yang berkecimpung di IT dan hafal pola komunikasi para developernya. Masing-masing dari kami membawa fragmen profesi kami ke dalam kehidupan sehari-hari. Kadang membuat kami tertawa, kadang membuat orang lain bingung, tapi selalu mengingatkan bahwa kita dibentuk oleh hal-hal yang kita lakukan setiap hari.

Dan mungkin, justru itu yang membuat hidup menarik.

Selasa, 18 November 2025

Kenapa Tulisan Terasa Lebih Telanjang dari Foto?

Oleh: Nayla Iffah

Ada hal yang baru kusadari belakangan ini: betapa berbeda rasanya ketika seseorang bilang “aku lihat sosmed-mu” dibanding “aku baca tulisanmu.” Yang pertama terasa biasa saja, seperti mereka hanya melihat kulit luar. Foto-foto jalan-jalan, pemandangan, atau potret tubuh dari jauh itu tidak mengungkap siapa diriku. Itu hanya fragmen visual tentang hal-hal yang kulakukan, bukan siapa aku di dalam. Tapi tulisan… itu lain. 

Ada dua bentuk telanjang: telanjang tubuh dan telanjang pikiran. Dan anehnya, telanjang pikiran bisa terasa jauh lebih menakutkan. Ketika seseorang bilang mereka membaca tulisanku, rasanya seperti mereka masuk ke ruang terdalam yang biasanya hanya kukunjungi sendirian. Tulisan-tulisan itu bukan sekadar kata. Itu cara berpikirku, kerentananku, sudut kecil dari batin yang tidak pernah terlihat di foto mana pun. Mungkin itu sebabnya beberapa waktu terakhir aku mengarsipkan banyak tulisan lamaku. Aku malu membacanya. Ada versi diriku yang dulu menulis dengan polos, mentah, tanpa penyaring. Versi yang hanya ingin meluapkan segalanya dan tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari orang-orang nyata dalam hidupku bisa membacanya. 

Aku bergabung dengan blog sejak 2015—era di mana aku masih menulis curhat-curhat yang sekarang membuatku menutup muka kalau tanpa sengaja kubaca ulang. Selain karena tulisannya yang menurutku buruk, karena aku sudah bukan orang yang sama dengan penulis tulisan-tulisan itu. Dan mengarsipkannya bukan berarti aku menyangkal diriku sendiri. Justru sebaliknya: itu bentuk perlindungan terhadap diriku yang sekarang. Aku belajar menetapkan batas. Aku memilih mana yang ingin kutunjukkan, dan mana yang cukup kusimpan sebagai catatan pribadi. Ada sesuatu yang matang di sana. Bahwa aku boleh tumbuh, berubah, dan memutuskan untuk menjaga privasi emosionalku sendiri. 

Sekarang aku hanya meninggalkan tulisan-tulisan yang temanya lebih umum, yang tidak akan membuatku menunduk malu kalau tiba-tiba seseorang di dunia nyata bertanya tentangnya. Sisanya kusimpan baik-baik, hanya untukku.
© Nayla Writing Room
Maira Gall