Ada hal yang baru kusadari belakangan ini: betapa berbeda rasanya ketika seseorang bilang “aku lihat sosmed-mu” dibanding “aku baca tulisanmu.” Yang pertama terasa biasa saja, seperti mereka hanya melihat kulit luar. Foto-foto jalan-jalan, pemandangan, atau potret tubuh dari jauh itu tidak mengungkap siapa diriku. Itu hanya fragmen visual tentang hal-hal yang kulakukan, bukan siapa aku di dalam. Tapi tulisan… itu lain.
Ada dua bentuk telanjang: telanjang tubuh dan telanjang pikiran. Dan anehnya, telanjang pikiran bisa terasa jauh lebih menakutkan. Ketika seseorang bilang mereka membaca tulisanku, rasanya seperti mereka masuk ke ruang terdalam yang biasanya hanya kukunjungi sendirian. Tulisan-tulisan itu bukan sekadar kata. Itu cara berpikirku, kerentananku, sudut kecil dari batin yang tidak pernah terlihat di foto mana pun.
Mungkin itu sebabnya beberapa waktu terakhir aku mengarsipkan banyak tulisan lamaku. Aku malu membacanya. Ada versi diriku yang dulu menulis dengan polos, mentah, tanpa penyaring. Versi yang hanya ingin meluapkan segalanya dan tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari orang-orang nyata dalam hidupku bisa membacanya.
Aku bergabung dengan blog sejak 2015—era di mana aku masih menulis curhat-curhat yang sekarang membuatku menutup muka kalau tanpa sengaja kubaca ulang. Selain karena tulisannya yang menurutku buruk, karena aku sudah bukan orang yang sama dengan penulis tulisan-tulisan itu.
Dan mengarsipkannya bukan berarti aku menyangkal diriku sendiri. Justru sebaliknya: itu bentuk perlindungan terhadap diriku yang sekarang. Aku belajar menetapkan batas. Aku memilih mana yang ingin kutunjukkan, dan mana yang cukup kusimpan sebagai catatan pribadi.
Ada sesuatu yang matang di sana. Bahwa aku boleh tumbuh, berubah, dan memutuskan untuk menjaga privasi emosionalku sendiri.
Sekarang aku hanya meninggalkan tulisan-tulisan yang temanya lebih umum, yang tidak akan membuatku menunduk malu kalau tiba-tiba seseorang di dunia nyata bertanya tentangnya. Sisanya kusimpan baik-baik, hanya untukku.
