Selasa, 18 November 2025

Kenapa Tulisan Terasa Lebih Telanjang dari Foto?

Oleh: Nayla Iffah

Ada hal yang baru kusadari belakangan ini: betapa berbeda rasanya ketika seseorang bilang “aku lihat sosmed-mu” dibanding “aku baca tulisanmu.” Yang pertama terasa biasa saja, seperti mereka hanya melihat kulit luar. Foto-foto jalan-jalan, pemandangan, atau potret tubuh dari jauh itu tidak mengungkap siapa diriku. Itu hanya fragmen visual tentang hal-hal yang kulakukan, bukan siapa aku di dalam. Tapi tulisan… itu lain. 

Ada dua bentuk telanjang: telanjang tubuh dan telanjang pikiran. Dan anehnya, telanjang pikiran bisa terasa jauh lebih menakutkan. Ketika seseorang bilang mereka membaca tulisanku, rasanya seperti mereka masuk ke ruang terdalam yang biasanya hanya kukunjungi sendirian. Tulisan-tulisan itu bukan sekadar kata. Itu cara berpikirku, kerentananku, sudut kecil dari batin yang tidak pernah terlihat di foto mana pun. Mungkin itu sebabnya beberapa waktu terakhir aku mengarsipkan banyak tulisan lamaku. Aku malu membacanya. Ada versi diriku yang dulu menulis dengan polos, mentah, tanpa penyaring. Versi yang hanya ingin meluapkan segalanya dan tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari orang-orang nyata dalam hidupku bisa membacanya. 

Aku bergabung dengan blog sejak 2015—era di mana aku masih menulis curhat-curhat yang sekarang membuatku menutup muka kalau tanpa sengaja kubaca ulang. Selain karena tulisannya yang menurutku buruk, karena aku sudah bukan orang yang sama dengan penulis tulisan-tulisan itu. Dan mengarsipkannya bukan berarti aku menyangkal diriku sendiri. Justru sebaliknya: itu bentuk perlindungan terhadap diriku yang sekarang. Aku belajar menetapkan batas. Aku memilih mana yang ingin kutunjukkan, dan mana yang cukup kusimpan sebagai catatan pribadi. Ada sesuatu yang matang di sana. Bahwa aku boleh tumbuh, berubah, dan memutuskan untuk menjaga privasi emosionalku sendiri. 

Sekarang aku hanya meninggalkan tulisan-tulisan yang temanya lebih umum, yang tidak akan membuatku menunduk malu kalau tiba-tiba seseorang di dunia nyata bertanya tentangnya. Sisanya kusimpan baik-baik, hanya untukku.

Rabu, 30 April 2025

Vasektomi, Solusi Pengendalian “Beban Negara”?

Oleh: Nayla Iffah
Baru-baru ini, sebuah kebijakan kontroversial kembali mencuat di ruang publik: penerapan vasektomi sebagai syarat bagi warga miskin untuk menerima bantuan sosial. Langkah ini sontak menuai dukungan dari sebagian warganet yang merasa bahwa orang miskin sebaiknya tidak memiliki terlalu banyak anak. Mereka berargumen bahwa keluarga miskin kerap kali tak mampu memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya, sehingga langkah pengendalian kelahiran, bahkan melalui steril permanen seperti vasektomi dipandang sebagai solusi logis untuk memutus rantai kemiskinan.

Namun, mari kita berhenti sejenak dan bertanya, benarkah masalahnya sesederhana itu? Apakah kemiskinan memang disebabkan oleh terlalu banyaknya anak, atau justru oleh sistem yang gagal menjamin hak-hak dasar warga negaranya?

Kemiskinan bukanlah hasil dari pilihan individu semata. Ia adalah buah dari struktur sosial dan ekonomi yang timpang. Banyak dari mereka yang hidup dalam kemiskinan bekerja keras setiap hari, namun tetap saja penghasilannya tak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar. Upah minimum yang tidak layak, minimnya lapangan kerja, pendidikan yang tidak merata, dan akses kesehatan yang mahal menjadi realita sehari-hari bagi banyak keluarga di negeri ini. Di tengah tekanan hidup semacam itu, sulit mengharapkan seseorang untuk berpikir panjang tentang perencanaan keluarga, apalagi bila mereka tak mendapat akses terhadap edukasi seksual dan kontrasepsi yang aman.

Mendorong vasektomi sebagai bentuk pengendalian kelahiran bisa saja menjadi salah satu pilihan jika diberikan secara sukarela, dengan edukasi dan pertimbangan matang. Namun, ketika kebijakan ini dijadikan syarat untuk menerima bantuan sosial, maka itu tidak lagi bersifat sukarela. Itu menjadi bentuk pemaksaan terselubung, bahkan bisa disebut sebagai kekerasan struktural. Orang miskin dipaksa memilih antara mempertahankan haknya atas tubuh dan keturunan, atau mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan untuk bertahan hidup.

Alih-alih mengatur tubuh rakyatnya, pemerintah seharusnya mengurus apa yang lebih mendesak dan fundamental: membuka lapangan kerja yang layak, memperbaiki sistem pendidikan dan layanan kesehatan, serta menjamin keamanan sosial. Menyederhanakan kemiskinan sebagai akibat dari jumlah anak hanyalah pengalihan isu. Ia mencerminkan ketidakmauan negara untuk melihat dan menyelesaikan akar masalah yang sesungguhnya.

Hak untuk memiliki keturunan adalah hak asasi. Dan hak atas hidup layak, termasuk akses terhadap pekerjaan, pendidikan, dan kesehatan juga merupakan tanggung jawab negara yang tak bisa ditawar. Membatasi keturunan tanpa memperbaiki kualitas hidup hanya akan memperpanjang ketimpangan dan menormalisasi ketidakadilan.

Karena masalahnya bukan jumlah anak, melainkan sistem yang terus menerus gagal melindungi warganya.

Selasa, 26 November 2024

Morning Pages: Tiga Lembar Setiap Pagi Tanpa Sensor

Saya pertama kali mengetahui tentang istilah "Morning Pages" dari Youtuber edukasi, Zahid Ibrahim. Saya tertarik dengan apa yang dia sampaikan dan mempraktekannya setelah mengulik lebih dalam apa itu Morning Pages. Morning Pages sebenarnya sederhana. Kita hanya perlu menuliskan apapun yang yang bisa kita tulis seperti hal-hal yang mengganggu pikiran, gagasan, refleksi, rasa syukur, harapan atau mimpi semalam dengan tulisan tangan. Kita bahkan bisa menulis "Aku tidak tau akan menulis apa" sebanyak tiga halaman jika benar-benar tidak ada apapun yang muncul dikepala kita. 

Morning Pages sendiri merupakan teknik menulis bebas yang dikenalkan oleh Julia Cameron dalam bukunya " The Artist's Way: A Spriritual Path to Higher Creativity". Metode ini mengajak kita untuk menulis tiga halaman setiap pagi tanpa memikirkan struktur dan tata bahasa. Tujuannya sederhana, membersihkan kebisingan dalam pikiran dan membebaskan kreativitas. Selama sebulan terakhir saya rutin melakukan Morning Pages setiap pagi setelah berolahraga. Hasilnya, perasaan saya jauh lebih ringan. Bahkan jika awalnya hanya menulis "aku tidak tau akan menulis apa" ketika mengulanginya terus-menerus pikiran saya secara alami akan pindah ke ide atau perasaan lain yang lebih spesifik. Proses inilah yang yang membuka "sumbatan" dikepala dan membuat pikrian menjadi lebih ringan. 
"Morning pages are not meant to be art, or even writing. They are meant to be, simply, the act of moving the hand across the page and writing down whatever comes to mind. Nothing is too petty, too silly, too stupid, or too weird to be included".

Morning Pages bukan tentang menghasilkan tulisan yang indah atau bermakna. Melainkan untuk melepaskan apapun yang ada di pikiran tanpa sensor. Membiarkan tulisan mengalir bebas atau stream of consciousness, jadi tidak apa-apa untuk memulai dengan kebingungan atau pengulangan, yang penting adalah konsistensi menulis tiga halaman setiap pagi dengan tulisan tangan.

Morning pages, selain membuat pikiran menjadi lebih ringan, kegiatan ini juga membantu untuk lebih memahami pola pikir dan emosi dengan lebih baik. Hal itu meningkatkan kemampuan untuk lebih fokus dan menghasilkan ide-ide baru dalam pekerjaan dan kehidupan sehari-hari, membuka ruang bagi kreativitas yang mungkin sebelumnya terhambat karena kebingungan, kecemasan, atau tekanan mental. Morning pages juga memberi ruang untuk refleksi tanpa khawatir dengan penilaian orang lain. Bebas menjadi diri sendiri dan jujur apa adanya. 

Rabu, 20 November 2024

Belajar Mencintai Hidup

Oleh: Nayla Iffah

19/11/24 Rutinitas pagi seperti biasa. Aku bersimbah keringat, dan waktu menunjukan pukul 06.40 ketika aku menuliskan ini. Aku bangun pukul 04.50, langsung menyelesaikan beberapa tugas kecil, lalu olahraga (hari ini pakai panduan Mizi) selama 30 menit. Siang nanti aku akan pergi ke dokter THT. Bunyi di telingaku sudah terlalu mengganggu. Bayangkan rasanya kupingmu dibisiki ssrr ssrr nonstop 24 jam—desir layang-layang yang tak kunjung pergi dari telinga kananku. Tapi, meskipun ada yang membuat tubuh ini tidak nyaman, aku menyukai hidupku akhir-akhir ini. Aku lebih sering bersyukur. Bukan pada hal besar, tapi hal-hal kecil yang dulu sering luput dari perhatian. Aku bersyukur aku suka brokoli. Aku suka jus sayur. Aku suka semua buah—termasuk pepaya, buah yang sering dihindari orang-orang di sekitarku karena tumbuh di mana-mana: di belakang rumah, di pekarangan tak terurus, atau tanah kosong yang jarang dipijak. Tapi tidak sulit mendapat pepaya gratisan di sini, dan aku bersyukur untuk itu. Aku bersyukur D.O. masih exist dan kontennya mudah diakses. Aku bersyukur bisa masak. Bersyukur karena membersihkan rumah, menyikat toilet, menyapu lantai bukan hal berat bagiku. Aku bersyukur untuk buku-buku yang ku baca; mereka memberiku ruang untuk merasakan sedih, tawa, kesal, haru, cinta, dan kecewa. Aku bersyukur bisa tenggelam dalam huruf-huruf mereka.

Kadang aku berpikir, kalau suatu hari seseorang bertanya, “Kamu kok belum nikah? Maunya yang kayak gimana sih?” Aku mungkin akan menjawab: “Seseorang yang mencintai hidupnya.”

Bukan karena terdengar filosofis, tapi karena aku tahu, orang yang mencintai hidupnya bisa menemukan kebahagiaan dari hal yang paling sederhana. Mereka tidak menggantungkan kebahagiaan pada musim tertentu. Cerah, mendung, atau hujan sekalipun—semua tetap bisa dinikmati. Mereka senang mencium aroma kopi, tertawa bersama teman, menatap langit, atau bahkan hanya menikmati makanan favorit.

Mereka terbuka untuk mencoba. Tidak takut keluar dari kebiasaan, berani menyusuri tempat-tempat asing, mencoba hal baru, belajar hal-hal yang mungkin tidak pernah ada di daftar sebelumnya. Mereka mungkin penggemar berat thriller detektif, tapi akan tetap mau mencoba membaca romance fantasy jika aku memintanya.

Mereka juga tidak sibuk meratapi masa lalu, atau hidup dalam ketakutan terhadap masa depan. Mereka hadir—penuh—di momen sekarang. Optimis. Bukan berarti tak pernah punya masalah, tapi mereka mampu melihat tantangan sebagai kesempatan untuk belajar dan tumbuh.

Mereka punya impian, besar maupun kecil. Dan itu yang membuat mereka terus bergerak. Mereka peduli. Mereka suka berbagi kebahagiaan, meskipun hanya lewat hal-hal sederhana—sebuah pesan, secangkir teh, pelukan hangat, atau sekadar mendengarkan.

Mereka menjaga diri mereka sendiri. Makan makanan yang baik, olahraga, tidur cukup. Mereka ingin terus hadir dalam hidupnya dan hidup orang-orang yang mereka sayangi.

Mereka tidak hidup dengan dendam, tidak juga dengan penyesalan. Mereka menerima, berdamai, dan berjalan maju dengan hati yang ringan. Mencintai hidup berarti juga mencintai dan menerima diri sendiri. Tidak membandingkan terus-menerus dengan orang lain. Tidak sibuk mengejar validasi. Tapi bisa menatap cermin dan berkata: “Aku cukup.”

Tentu saja mereka juga punya hari-hari buruk. Mereka juga bisa marah, kecewa, atau menangis. Tapi mereka tahu cara bangkit. Mereka tahu hidup ini layak untuk dirayakan, meski hanya dengan secangkir kopi dan udara pagi yang segar.

Laki-laki fiksi-kah yang aku impikan? Aku pikir, tidak ada yang lebih membahagiakan dibanding berdampingan seumur hidup dengan orang yang mencintai hidupnya. Aku menyisihkan semua kriteria laki-laki impianku saat remaja karena laki-laki yang mencintai hidupnya lebih keren dibanding apapun. 

Aku menyukai hidupku akhir-akhir ini. Aku sendiri terkejut betapa besar dampak dari perubahan kecil: mencatat habit trackerfinancial tracker, menulis morning pages, bangun pagi dan tidak tidur lagi, serta olahraga teratur. Semua itu berdampak nyata bagi fisik dan mentalku. Aku bersyukur untuk psikiaterku yang selalu menyertakan catatan di tiap sesi: “Olahraga fisik secara teratur agar dapat meningkatkan mood dan energi menjalani kegiatan sehari-hari. Tulislah perasaan dan pengalaman di buku catatan agar dapat membantu meredakan kecemasan dan memproses emosi dengan baik.”

Waktu masih menunjukan pukul 07.55 Aku akan membuat kopi dan mulai bekerja.

Aku ingin menutup pagi ini dengan kutipan dari Kahlil Gibran, dari buku The Prophet:

When you work, you fulfil a part of earth’s furthest dream,

assigned to you when that dream was born,

and in keeping yourself with labour you are in truth loving life,

and to love life through labour is to be intimate with life’s inmost secret.

Pekerjaan bukan sekadar kewajiban, tapi ekspresi cinta terhadap kehidupan. Dengan bekerja secara sadar dan penuh cinta, kita tidak hanya menjalani hidup, tapi juga menjadi bagian dari harmoni besar alam semesta. Lewat kerja, kita menemukan tujuan, menikmati dunia, dan menciptakan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Selamat Mencintai Hidup! 

Minggu, 16 Juni 2024

Lima Rekomendasi Buku Tentang Depresi dan Kesehatan Mental

Buku tentang depresi dan kesehatan mental
Saat ini topik tentang depresi dan kesehatan mental semakin banyak mendapatkan perhatian, seiring dengan banyaknya orang yang sadar dan peduli bahwa kesehatan mental tidak hanya penting untuk kualitas hidup, tapi juga berperan krusial dalam hubungan interpersonal, produktivitas dan kemampuan dalam menghadapi permasalahan hidup sehari-hari. Sebenarnya depresi dan masalah kesehatan mental lainnya adalah hal yang sering dialami banyak orang. Untuk itulah buku-buku ini hadir sebagai upaya untuk membantu kita memahami dan menghadapi masalah depresi dan kesehatan mental, serta untuk memastikan bahwa orang yang mengalami hal tersebut tidak lagi merasa sendiri. Namun, perlu diingat jika kalian tertarik membaca salah satu dari buku ini jangan mencoba mendiagnosis diri sendiri. Buku-buku ini hanya berfungsi sebagai pendamping, tetapi diagnosis dan perawatan tetap harus diserahkan pada profesional. Semoga buku-buku ini bisa menjadi panduan dalam perjalanan kalian mengenal depresi dan kesehatan mental yang lebih baik. Selamat membaca!

1. Loving The Wounded Soul

 

Kamis, 29 Februari 2024

Pengalaman Pertama Berkunjung ke Tanah Baduy

Mengamati keseharian sekelompok masyarakat yang berbeda dari budaya kita selalu terdengar menarik. Hal baru, tempat baru, teman baru, suasana baru—semuanya membangkitkan gairah untuk merasakannya. Itulah yang melatari keinginan saya untuk segera menginjakkan kaki di tanah Baduy, selagi masih ada kesempatan. Dan pada awal Februari 2024, akhirnya kesempatan itu datang.

Pagi itu, saya memulai perjalanan dari Jakarta menuju Banten dengan menumpang KRL dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Rangkasbitung. Ini adalah kali pertama saya mencoba rute KRL terpanjang di Indonesia, dengan waktu tempuh sekitar dua jam dan tarif hanya Rp8.000. Saya cukup kaget dengan harga tiket yang begitu murah untuk durasi perjalanan yang cukup panjang. Saya tiba di Rangkasbitung pukul 09.30 dan melanjutkan perjalanan dengan microbus yang telah disediakan pihak open trip menuju Kampung Cijahe—pos pertama sekaligus tempat istirahat sebelum mendaki ke Baduy Dalam.

Siang itu, suasana pos sudah sangat ramai oleh wisatawan. Kami semua berkumpul di sebuah rumah panggung bambu yang tak begitu luas. Karena jumlah peserta puluhan orang, perlu sedikit usaha untuk mencari tempat duduk dan menaruh barang. Kami salat, makan, istirahat, dan bersiap di sana sebelum tour leader membawa kami memulai trekking. Jalur kami dimulai dari Kampung Cijahe, salah satu rute tercepat menuju Baduy Dalam, dengan estimasi waktu 2–4 jam. Rencananya kami akan pulang melalui jalur Ciboleger dengan estimasi waktu 5–9 jam, tergantung cuaca, medan, dan kondisi fisik peserta. 

Sabtu sore itu, sebelum mendaki, suasananya sedikit gerimis. Langit mendung dan embusan angin terasa sejuk. Setelah briefing dan mengabadikan momen bersama, kami memulai pendakian. Cuaca Baduy saat itu memang kurang bersahabat, tapi tidak menyurutkan semangat dan rasa penasaran kami terhadap hal-hal yang akan kami temui nanti di Baduy Dalam.

Perjalanan kami dipandu dua orang Baduy Dalam: Kamong (15 tahun) dan Coki (9 tahun). Sama seperti warga Baduy Dalam pada umumnya, mereka tidak memakai alas kaki. Mereka mengenakan pakaian adat berupa sarung loreng hitam, jamang sangsang, dan ikat kepala putih. Adat istiadat setempat tidak memperbolehkan anak-anak Baduy, baik Luar maupun Dalam, untuk bersekolah. Karena itu, Kamong dan Coki bekerja sampingan sebagai porter dan pemandu wisata setiap akhir pekan. Di hari biasa, mereka membantu orang tua berkebun, berladang, atau menjual hasil pertanian seperti buah, madu, palawija, dan kerajinan khas Baduy ke desa-desa sekitar.

Medan yang kami lalui cukup menantang—terjal, licin, dan berlumpur. Sejujurnya, itu cukup menyulitkan. Banyak di antara kami yang terpeleset dan akhirnya memilih mendaki tanpa alas kaki karena merasa lebih aman. Jadi, saran saya bagi teman-teman yang ingin mengunjungi Baduy saat musim hujan: gunakan sepatu gunung yang proper dan trekking pole untuk menahan beban tubuh agar tidak mudah tergelincir. Setelah sekitar 2,5 jam mendaki, kami tiba di jembatan terakhir yang memisahkan Baduy Luar dan Baduy Dalam. Setelah melewatinya, kami tak lagi diperbolehkan menggunakan gawai atau mendokumentasikan apa pun, sebagai bentuk penghormatan terhadap aturan adat, privasi, keotentikan budaya, dan keyakinan masyarakat setempat.

Menjelang Magrib, perjalanan kami terbayar ketika rumah-rumah bambu berdiri berjejer rapi di hadapan kami. Suasana Desa Cibeo tampak sepi—aktivitas penduduk sudah mulai meredup, anak-anak tak terlihat karena gerimis belum juga reda, dan langit terus menggelap. Kami langsung menuju rumah Ayah Sapri, ayah dari Kamong. Di sanalah kami akan menginap. Selain Ayah Sapri, ada Ambu, kakak perempuan, adik perempuan, dan seorang keponakan Kamong yang masih bayi. Kamong sendiri tidak ikut bermalam karena harus kembali ke rumah ladang.

Pakaian kami penuh lumpur saat tiba. Setelah beramah-tamah dan meletakkan barang, saya dan dua teman lainnya memutuskan membersihkan diri di sungai yang tak jauh dari rumah. Sungai ini berbeda dari yang kami temui di perjalanan—airnya sangat jernih meski baru diguyur hujan. Kami mandi bersama warga lokal yang sedang mencuci peralatan dapur, pakaian, dan bahan masakan. Awalnya kami malu karena belum terbiasa mandi di tempat terbuka. Tapi di sini, semua orang melakukannya. Kami pun menyesuaikan diri.

Dingin. Itulah yang pertama kali saya rasakan saat mencelupkan kaki ke air. Tapi setelah menceburkan seluruh badan, rasanya sejuk, segar, dan nyaman. Saya benar-benar menikmati sensasi mandi di sungai di atas bebatuan, diiringi suara alam. Kami saling menggosok punggung dengan batu, tertawa dan mengobrol bersama—sebuah pengalaman sederhana yang terasa menyenangkan. Kerlip kunang-kunang di atas kepala kami seperti pemandangan ajaib yang menghibur lelah setelah perjalanan panjang. Kami mendengar gemericik air, kicauan burung, desir dedaunan, dan tawa anak-anak di tepi sungai. Meski ingin berlama-lama, kami harus kembali sebelum malam tiba.

Saat pulang, cahaya remang obor yang tergantung di dekat tungku sudah menerangi rumah panggung tempat kami akan bermalam. Gerimis belum reda, tapi suasana hangat terasa karena tidak ada ponsel di antara kami. Kami mengobrol, bertukar cerita, dan mengenang momen lucu selama perjalanan. Tawa kami memecah keheningan malam hingga waktu makan tiba. Kami menyantap masakan Ambu dalam diam, menggunakan peralatan makan dari bambu. Setelah makan, kami saling mengenal lebih dekat, lalu mendengarkan Ayah Sapri bercerita tentang adat istiadat, hukum, keyakinan, tradisi perkawinan, dan banyak hal menarik lain tentang Baduy. Malam itu ditutup dengan makan durian hasil kebun. Letih yang tertahan sejak pagi akhirnya terasa. Kami berbaring dan tertidur pulas dalam pelukan malam.

Rabu, 06 September 2023

As Long as The Lemon Tress Grow: Perang Fisik & Mental Penyintas Perang Suriah

Oleh: Nayla Iffah

As Long as The Lemon Tress Grow adalah buku debut yang ditulis oleh Zoulfa Katouh, seorang wanita muslim berkebangasaan Kanada dan merupakan keruturunan seorang Suriah. Novel young adult bergenre historical fiction romance ini sudah menarik perhatian para pembaca sejak pertama kali penerbitannya. Dengan menanamkan pesan dan harapan dalam situasi yang dialami oleh tiap karakter, penulis berhasil mengkombinasikan cerita tentang kekejaman penguasa tiran, trauma psikis serta upaya bertahan hidup para tokoh di dalamnya dengan plot yang epik dan menarik. Buku ini telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan meraih beberapa penghargaan, diantaranya: Amazon Best Young Adult of the Year 2022 dan nominasi Shortlisted Book of the Year Discover The British Book Awards 2023. Ide kisah dalam buku ini muncul ketika penulis menyadari bahwa banyak orang tidak terlalu tau apa yang terjadi di Suriah. Pemberitaan yang dilporkan media tentang korban perang, penyiksaan dan pembunuhan yang terjadi di Suriah menurutnya hanyalah sekadar angka. Karena hal tersebutlah penulis ingin menunjukan emosi-emosi manusia di balik itu semua dengan mengisahkan apa yang terjadi dan apa yang mereka alami.

Buku ini diceritakan melalui sudut pandang orang pertama yang merupakan seorang gadis muda berusia 19 tahun bernama Salama. Sebelum pecahnya perang Suriah, Salama adalah seorang mahasiswi apoteker tahun pertama yang menjalani kehidupan normal seperti remaja pada umumnya. Namun, pecahnya perang membuat Salama yang mulanya hanya seorang mahasiswi apoteker akhirnya menjadi volunteer multi peran sebagai apoteker, perawat dan ahli bedah di rumah sakit Zaytouna yang tak jauh dari tempat tinggalnya di Homs, Suriah.

Kegaduhan perang Suriah membuat Salama kehilangan ibunya, Ayah dan Hamza, Kakaknya ditahan di penjara Sednaya, salah satu tempat penahanan paling brutal di Suriah. Tak ada kabar dan kepastian apakah ayah dan Kakaknya masih hidup atau sudah menjadi martir. Satu-satunya keluarganya yang tersisa adalah Layla, saudari ipar sekaligus sahabat masa kecil yang tengah mengandung keponakannya. Sebelum Hamza pergi, Salama telah berjanji kepadanya untuk melindungi Layla dan calon bayinya. Dan satu-satunya cara untuk menunaikan janji tersebut adalah dengan menyelundup dari Suriah dan mengungsi ke Eropa. 

Kepedihan, kehilangan, dan ketakutan akibat perang yang dialami oleh Salama menyebabkan ia mengalami PTSD (post-traumatic stress disorder) hingga memunculkan sosok bayangan seorang pria berwatak keras dan dingin bernama Khawf yang bersemayam dalam pikirannya. Khawf selalu mendesak Salama untuk menyelamatkan dirinya dan Layla agar meninggalkan Suriah sesegera mungkin. Konflik muncul dalam batin Salama karena ia tak ingin berpaling dari Suriah ketika tanah kelahirannya bergelimpangan dan membutuhkan dirinya untuk menolong menyelamatkan para pasien. Keraguannya bertambah ketika akhirnya ia bertemu dengan Kenan. Sosok pemuda bermata hijau dengan semangat membara untuk membela tanah airnya. Sosok pemuda yang gemar dengan dengan animasi dan ingin berjuang untuk menunjukan pada dunia kekajaman macam apa yang sedang terjadi di Suriah, sosok pemuda yang seharusnya Salama temui pada hari ketika serangan pertama di kota Homs pecah.

Ketika membaca buku ini pembaca ditarik untuk turut merasakan kepedihan, kesedihan, dan juga ketegangan para tokohnya ketika berjuang untuk bertahan hidup. As Long as the Lemon Tress Grow adalah kisah memilukan tentang perang Suriah yang membuat orang tua kehilangan anak, dan anak-anak yang seketika menjadi yatim/piatu karena kehilangan orang tuanya. Kisah dalam buku ini membuat kita lebih memahami mengapa orang-orang yang masih terlibat begitu sulit untuk keluar dari perang dan memilih tetap bertahan dalam kekejaman yang dilakukan penguasa tiran.

Novel ini merupakan salah satu buku paling berkesan yang saya baca di tahun 2023. Kisah tentang pecahnya perang telah menyebabkan banyak tragedi memilukan. Namun, di tengah-tengah hal yang memilkukan sekalipun pasti akan ada saatnya hal-hal yang membahagiakan tiba. Seperti Salama dan Kenan yang saling menemukan dan berjuang bersama untuk bertahan hidup dan melindungi kelurga yang masih tersisa dengan bekal "harapan". Harapan untuk bisa hidup normal dan bebas menyurakan aspirasi untuk tanah kelahirannya. 

"Takdir memang memiliki sulur-sulur benangnya, tetapi kitalah yang merajutnya dengan tindakan dan pilihan kita. Keimananku pada takdir tidak membuatku pasif. Aku jurstru berjuang, berjuang, dan berjuang demi hidupku. Sama seperti Kenan berjuang untuk hidupnya".

Factfulness: Mispersepsi Tentang Dunia yang Dianggap Semakin Buruk

Oleh: Nayla Iffah

Terdapat banyak makna di balik kata “Factfulness” yang tercantum di dalam dalam buku ini, definisinya tergantung pada tiap bab yang dibahas. Tapi yang paling singkat dan mudah dimengerti menurut saya adalah “wawasan tentang dunia yang berbasis fakta”.

Factfulness merupakan buku bestseller yang ditulis oleh Hans Rosling, seorang guru besar ilmu kesehatan internasional, dokter, peneliti, konsultan WHO dan UNICEF serta salah satu pendiri Gapminder Foundation. Factfulness merupakan buku kolaborator Hans bersama Ola Rosling dan Anna Rosling. Buku ini telah diterjemakan dalam berbagai bahasa termasuk bahasa Indonesia dan telah dibaca oleh beberapa tokoh besar dunia seperti Barack Obama dan Bill Gates.

Factfulness merupakan buku yang akan menuntun kita untuk mengubah perspektif dan kecenderungan kita yang menganggap bahwa dunia semakin buruk padahal faktanya tidaklah demikian. Jika membandingkan dunia yang sekarang dengan dunia beberapa puluh tahun yang lalu, jelas banyak sekali perubahan-perubahan baik yang patut kita apresiasi. Meskipun di dunia ini masih banyak hal-hal buruk yang terjadi, tapi hal-hal buruk tersebut disaat bersamaan juga disertai dengan banyak munculnya hal-hal baik. Misalnya, semakin menurunnya angka kemiskinan ekstrim, semakin meratanya akses pendidikan, akses kesehatan, listrik dan air, semakin meningkatnya usia harapan hidup rata-rata, serta berbagai kemajuan manakjubkan lainnya di berbagai sektor.

Buku ini tidak menuntut kita untuk selalu berpikir baik tentang dunia, melainkan mempertahankan dua pikiran sekaligus bahwa sesuatu dapat membaik sekaligus tetap buruk, dan melihat segala sesuatunya beradasarkan data, bukan perasaan atau ilusi. Garis besar dalam  buku Factfulness membahas tentang sepuluh insting atau naluri yang kerap membuat kita salah paham dan tidak memandang dunia sebagai mana mestinya sesuai dengan fakta yang ada. Disini, saya tidak akan membahas sepuluh insting sekaligus. Saya hanya akan memberi gambaran besar tentang beberapa insting  yang menurut saya paling menarik dan seringkali kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

 

The Gap Instinct (Naluri Terhadap Kesenjangan)

Kita seringkali melabeli segala sesuatu dalam dua kategori berbeda yang bertentangan seperti memberi jarak yang lebar antar keduanya supaya perbedaan dalam imajinasi kita benar-benar ketara dan susah terpatahkan, misalnya mengkategorikan negara berdasarkan dua jenis: negara kaya versus negara miskin. Dengan mengkategorikan dunia ke dalam dua kotak (miskin dan kaya) hal tersebut dapat menjadikan sudut pandang kita terdistorsi dalam menggambarkan dunia yang kita kenal. Ketika orang mangatakan "negara berkembang" dan "negara maju" yang ada di pikiran mereka mungkin adalah "negara miskin" dan "negara kaya" "west/rest" dan "low income/ high income" dan semacamnya. Padahal faktanya, saat ini kesenjangan antara dua perbedaan yang bertentangan tersebut sudah tidak ada.

Saat ini negara-negara miskin yang sedang berkembang tidak lagi hadir sebagai kelompok yang berbeda. Kesenjangan itu tidak ada. Sekarang, sebagaian bersar orang, 75% hidup di negara-negara berpendapatan sedang, tidak miskin dan tidak kaya. 

Meskipun sekala negara dengan penduduk yang masih menderita kemiskinan ekstrim masih ada, tapi sebagian besar warga dunia saat ini sudah berada di bagian tengah, tidak miskin dan tidak kaya.

The Destiny Instinct (Naluri Terhadap Takdir)

"Naluri terhadap takdir ini adalah gagasan bahwa karakteristik bawaan menentukan takdir sebuah bangsa, negara, agama, atau tradisi dan kebudayaan. Menurut gagasan ini, segala sesuatu akan tetap seperti "apa adanya" karena bermacam alasan yang tidak dapat dihindari: akan tetap seperti itu dan tidak akan pernah berubah"
Sebagian dari kita mungkin berasumsi bahwa keadaan yang statis adalah sebuah takdir. Sebuah tradisi dalam suatu negara, agama, atau kebudayaan yang dalam keberlangsungan praktiknya merugikan pihak-pihak tertentu dan telah berlangsung selama Puluhan abad tampak seperti batu cadas yang tidak berubah dan kita mengasumsikannya sebagai "takdir".

Misalkan saja di Yaman. dalam buku I'm Nujood Age 10 and Divorce dikatakan bahwasanya di Yaman, agama hanyalah salah satu faktor yang mendorong para ayah untuk menikahkan anak perempuan mereka sebelum mencapai usia pubertas. Faktor pendukung lainnya adalah kemiskinan, adat istiadat setempat, kurangnya pendidikan serta kehormatan keluarga. Bahkan ada sebuah pribahasa dari salah satu suku di Yaman yang menyatakan "untuk menjamin pernikahan yang berbahagia, nikahilah gadis berusia Sembilan tahun". Kebudayaan partiaki dengan semboyan agama tersebut sudah berlangsung selama berabad-abad dan tampak susah sekali untuk dihilangkan.
"Masyarakat dan kebudayaan tidak seperti batu cadas yang tidak berubah dan tidak dapat diubah. Semua itu bergerak. Masyarakat dan kebudayaan Barat bergerak, masyarakat dan kebudayaan yang bukan Barat juga bergerak—seringkali jauh lebih cepat"

Terlepas dari perang dan kemiskinan, saat ini praktik ekstrim tersebut perlahan-lahan sudah berkurang. Banyak diantara perempuan Yaman yang saat ini sudah dapat mengakses pendidikan sehingga persentase perempuan yang buta huruf juga telah berkurang.

Dalam akhir bab ini Hans menyebutkan bahwasanya nilai-nilai yang mengunggulkan laki-laki seperti yang kita temukan saat ini di banyak negara Asia dan Afrika sesungguhnya bukan nilai-nilai Asia atau nilai-nilai Afrika. Nilai-nilai itu juga bukan nilai-nilai islam. Bukan nilai-nilai ketimuran, itu hanya nilai-nilai patriarkal yang akan hilang seiring dengan kemajuan pendidikan, sosial dan ekonomi. Pandangan-pandangan seperti itu akan hilang. Bukan tidak dapat diubah.

Dengan mengetahui fakta bahwasanya kita lebih dekat dengan kemajuan dari pada kemunduran dan bahwa dunia tidak sedramatis yang kita bayangkan, hal tersebut memungkinkan untuk membuat perasaan stres atau putus asa yang kita rasakan menjadi berkurang. Ketika memiliki wawasan dunia berbasis fakta, kita akan melihat bahwa dunia tidak seburuk yang kita bayangkan selama ini. dengan demikian kita juga dapat melihat dan mempertimbangkan apa yang harus kita lakukan untuk menjadikannya lebih baik.

© Nayla Writing Room
Maira Gall